Demak, mandemak.sch.id – MAN Demak menyelenggarakan kegiatan diseminasi hasil seminar yang diikuti Kepala Madrasah, H. Nur Kamsan, S.Ag., M.Pd., dalam kegiatan Dewan Pendidikan Kabupaten Demak yang berlangsung pada 20–23 Oktober 2026. Kegiatan diseminasi ini menjadi sarana berbagi wawasan dan pengetahuan sekaligus menyampaikan sejumlah rekomendasi untuk pengembangan pendidikan di lingkungan madrasah, Sabtu (7/11/26).
Acara diawali oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, Suprojo, S.Pd., dengan pembacaan basmalah.
Selanjutnya, H. Nur Kamsan menyampaikan materi hasil seminar dengan tema “Ikhtiar Membentengi Generasi Muda: Pendekatan Nilai Keagamaan dalam Menangkal Perilaku Menyimpang dan Pergaulan Bebas.”
Dalam pemaparannya, H. Nur Kamsan mengajak seluruh pendidik untuk menyadari berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.
Menurutnya, persoalan perilaku menyimpang, pergaulan bebas, dan berbagai bentuk penyimpangan perilaku di lingkungan masyarakat bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga, melainkan tugas bersama, termasuk lembaga pendidikan.
“Disadari atau tidak, inilah realitas yang terjadi di lingkungan kita. Ini menjadi tugas kita semua untuk bersama-sama melakukan pencegahan melalui pendidikan, pendampingan, dan penguatan nilai-nilai keagamaan,” ungkapnya.
Beberapa persoalan yang menjadi pembahasan antara lain fenomena LGBT, pergaulan bebas, kecanduan game online, serta berbagai tantangan psikososial yang dihadapi generasi muda. Dalam konteks tersebut, disampaikan pentingnya memahami persoalan secara komprehensif dengan mempertimbangkan aspek biologis, psikologis, sosial, budaya, dan agama.
Materi juga menyoroti pentingnya kesehatan fisik dan mental remaja, termasuk edukasi kesehatan reproduksi yang tepat, pendampingan psikologis, serta pembinaan spiritual.
Pendekatan pendidikan diharapkan tidak berhenti pada pemberian larangan, tetapi juga memberikan pemahaman, pendampingan, dan ruang konsultasi yang aman bagi peserta didik.
Lebih lanjut, pemateri menyampaikan bahwa penguatan nilai agama dan moral harus dimulai dari lingkungan keluarga.
Pendampingan psikologis dan spiritual, edukasi tentang fungsi keluarga, serta pendidikan mengenai hubungan yang sehat dan bertanggung jawab merupakan bagian penting dalam membentengi generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, disampaikan pula lima nasihat perkawinan KH. Mustofa Bisri yang dapat dijadikan refleksi dalam membangun keluarga:
Podo menungsane (sama-sama manusia).
Siji lanang, siji wadon (satu laki-laki dan satu perempuan).
Memahami peran dan tanggung jawab masing-masing sebagai suami dan istri.
Tidak berlebih-lebihan dalam segala hal.
Senantiasa menyandarkan kehidupan kepada Allah Swt.
Lembaga pernikahan memiliki peran penting dalam menjaga kehormatan, membangun keluarga yang sehat, serta mengatur kehidupan rumah tangga dengan penuh tanggung jawab.
Membangun Sekolah Ramah Anak
Pembahasan berikutnya menitikberatkan pada pentingnya mewujudkan sekolah ramah anak. Sekolah harus menjadi lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.
Karakteristik sekolah ramah anak meliputi sikap guru terhadap peserta didik, metode pembelajaran yang mendidik, serta pengelolaan ruang kelas yang kondusif. Prinsip utamanya adalah memastikan seluruh hak dan kebutuhan peserta didik terpenuhi sehingga mereka dapat belajar, berkembang, dan berprestasi tanpa rasa takut.
Pengembangan sekolah ramah anak juga membutuhkan komitmen bersama seluruh warga madrasah, baik kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, maupun orang tua.
Pada bagian akhir pemaparannya, H. Nur Kamsan menyampaikan beberapa informasi dan arahan tambahan sebagai tindak lanjut pengembangan pendidikan di MAN Demak.
Pertama, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) perlu mulai diperhatikan dan dipersiapkan sebagai bagian dari pengembangan pembelajaran masa depan.
Kedua, para guru diharapkan terus membangkitkan semangat belajar peserta didik, khususnya kelas XII, dalam menghadapi Sumatif Akhir Semester (SAS) Ganjil dan persiapan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).
Ketiga, pendalaman Al-Qur’an bagi peserta didik kelas X, XI, dan XII perlu dirancang dengan pendekatan dan materi yang berbeda sesuai jenjang serta kemampuan masing-masing.
Keempat, penggunaan alat peraga dalam pembelajaran mata pelajaran agama perlu mulai dikembangkan agar proses pembelajaran lebih menarik, konkret, dan mudah dipahami peserta didik.
Kelima, pendidikan antikorupsi juga perlu diintegrasikan dalam pembelajaran sebagai upaya menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, dan integritas sejak dini.
Melalui kegiatan diseminasi ini, diharapkan seluruh guru MAN Demak memperoleh wawasan baru dan mampu menerjemahkan hasil seminar menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pembinaan karakter peserta didik.
Kegiatan ditutup dengan pembacaan hamdalah. Semangat yang dibangun adalah bahwa madrasah bukan sekadar tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat membentuk generasi yang berilmu, berakhlak mulia, berkarakter, serta memiliki ketahanan moral dan spiritual dalam menghadapi tantangan zaman.(Adkar Nawawi, Humas MAN Demak)



