Demak, mandemak.sch.id — MAN Demak menjadi tuan rumah kegiatan Ngobrol Pendidikan Islam (NGOPI) bersama Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, H. Abdul Wachid, di Aula Gedung 1 MAN Demak, Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan yang mengangkat tema “Pendidikan Islam di Era Artificial Intelligence: Menguatkan Karakter di Tengah Transformasi Digital” tersebut diikuti oleh 240 peserta.
Peserta berasal dari unsur guru, kepala RA, MI, MTs, dan MA se-Kecamatan Wonosalam, Bonang, Karangtengah, Sayung, dan Guntur.
Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh dan narasumber, di antaranya H. Abdul Wachid selaku Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Prof. Dr. Adib Errim, M.Ag. selaku Dekan FTIK UIN Sunan Kudus, serta Dr. Ir. Muhamad Arifin, A.Md., S.Kom., M.Kom., M.E. selaku Wakil Dekan III FT Universitas Muria Kudus.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars Madrasah secara bersama-sama. Seluruh peserta mengikuti acara dengan penuh khidmat sebagai wujud semangat kebangsaan dan komitmen bersama dalam memajukan pendidikan Islam.
Dalam sambutannya, Kepala MAN Demak H. Nur Kamsan, S.Ag., M.Pd. mengucapkan selamat datang kepada seluruh tamu dan peserta yang hadir, khususnya kepada H. Abdul Wachid selaku Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI.
Ia berharap kehadiran seluruh pihak dalam kegiatan tersebut dapat membawa manfaat dan keberkahan bagi dunia pendidikan, khususnya bagi madrasah dan masyarakat Kabupaten Demak.
“Selamat datang kepada segenap para hadirin, khususnya kepada Bapak H. Abdul Wachid. Semoga kehadiran beliau di MAN Demak ini dapat membawa keberkahan bagi kita semua dan bagi kemajuan pendidikan madrasah,” ungkapnya.
Sambutan Kepala MAN Demak tersebut ditutup dengan pantun yang mendapat sambutan hangat dari peserta.
“Burung nuri terbang ke udara,
Suara rakyat itu nyata.”
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Wakil Dekan III FTIK UIN Sunan Kudus, Setyaningsih, M.Pd. Ia menyampaikan apresiasi kepada H. Abdul Wachid sebagai wakil rakyat dari Komisi VIII DPR RI yang memberikan perhatian terhadap perkembangan dan kemajuan pendidikan Islam.
Menurutnya, perkembangan Artificial Intelligence atau AI kini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan dan dunia pendidikan. Namun demikian, keberadaan teknologi tidak dapat menggantikan sepenuhnya peran seorang guru.
“Guru memiliki peran penting sebagai role model, pembimbing, dan pendamping dalam pembentukan karakter anak didiknya. Peran tersebut tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh AI,” jelasnya.
Setyaningsih menegaskan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan diperbolehkan selama digunakan secara bijak dan beretika. AI seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana untuk membantu proses berpikir dan pembelajaran, bukan untuk menggantikan kemampuan berpikir manusia.
“Boleh menggunakan AI, tetapi harus menggunakan etika. AI digunakan untuk membantu kita berpikir, bukan menggantikan kita untuk berpikir,” pesannya.
Ia berharap kegiatan NGOPI Pendidikan Islam tersebut dapat memberikan manfaat, wawasan, serta semangat baru bagi seluruh peserta dalam menghadapi transformasi digital tanpa meninggalkan nilai-nilai karakter.
Dalam sambutannya, H. Abdul Wachid, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, menyampaikan sejumlah hal terkait perhatian pemerintah dan DPR terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan madrasah.
Ia mendorong Kepala MAN Demak untuk menyiapkan dan mengajukan proposal Banpres atau bantuan presiden sesuai dengan ketentuan dan program yang tersedia. Selain itu, ia menyampaikan bahwa salah satu program yang dapat diakses masyarakat adalah Program Indonesia Pintar (PIP) dengan persyaratan dan ketentuan yang harus dipenuhi, termasuk mengacu pada kategori kesejahteraan desil 1 sampai 4.
H. Abdul Wachid mengakui masih terdapat berbagai persoalan terkait data desil yang berdampak pada penerimaan bantuan pendidikan. Oleh karena itu, pihaknya berkomitmen untuk menyerap aspirasi masyarakat dan mendorong adanya pembahasan dengan kementerian terkait, terutama Kementerian Sosial.
“Kami akan terus menyerap aspirasi terkait persoalan desil dan mendorong perbaikan data agar bantuan benar-benar dapat diterima oleh masyarakat yang berhak,” ujarnya.
Berdasarkan aspirasi yang disampaikan oleh Kasi Penmad, M. Abdul Rochim, S.Ag., M.Pd., H. Abdul Wachid juga membuka peluang untuk mengusulkan madrasah swasta di Kabupaten Demak yang dinilai telah memenuhi kesiapan dan persyaratan untuk menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN).
“Di Demak ada madrasah swasta yang sudah siap menjadi MAN, silakan diusulkan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan komitmennya untuk terus memperjuangkan peningkatan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan, termasuk guru RA, MI, madrasah sore, serta guru ngaji. Selain itu, perhatian terhadap sarana dan prasarana madrasah, rehabilitasi bangunan, dan pemanfaatan teknologi pembelajaran seperti smartboard juga menjadi bagian dari aspirasi yang terus diperjuangkan.
Dalam kesempatan tersebut, H. Abdul Wachid mengajak seluruh peserta untuk terus memberikan dukungan dan doa agar perjuangan memperkuat perhatian pemerintah terhadap madrasah dapat berjalan dengan baik.
“Kami berharap semuanya tetap semangat untuk berjuang dan bekerja. Kami akan terus berusaha memperjuangkan kepentingan RA dan madrasah,” tegasnya.
Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan dipandu oleh HM. Abdul Rochim, S.Ag., M.Pd. sebagai moderator. Berbagai persoalan terkait kesejahteraan guru, fasilitas pendidikan, bantuan gedung, serta ketimpangan kondisi tenaga pendidik antara lingkungan Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan menjadi topik utama diskusi.
Pertanyaan pertama disampaikan oleh Pak Ali dari MA Bakalrejo, Guntur, Demak, yang menanyakan peluang bantuan pembangunan dan rehabilitasi gedung melalui program bantuan pemerintah.
Pertanyaan berikutnya datang dari Kepala MI Islamiyah Bulusari, Sayung, terkait peluang bantuan gedung untuk madrasah yang memiliki fasilitas kurang memadai.
Sementara itu, Ahyadina dari MI Bonangrejo menyampaikan kondisi madrasah yang mengalami keterbatasan ruang belajar hingga harus menolak calon murid. Ia juga menyampaikan persoalan dana BOP yang belum cair dan berdampak pada operasional serta kesejahteraan guru.
Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, H. Abdul Wachid meminta agar persoalan dana BOP yang belum cair segera dicek dan dilaporkan secara jelas agar dapat ditindaklanjuti.
Terkait MI Bonangrejo, ia menyampaikan bahwa bantuan pada tahun anggaran 2027 dapat diperjuangkan sesuai ketentuan yang berlaku, dengan salah satu hal penting yang harus dipastikan adalah status tanah yang digunakan.
Ia juga menjelaskan bahwa program Banpres lebih diarahkan untuk penanganan bangunan dengan kategori kerusakan berat, bukan untuk pembangunan gedung baru. Oleh karena itu, madrasah perlu memenuhi persyaratan dan kriteria yang telah ditentukan.
“Jika ada madrasah dengan kondisi rusak berat, silakan dilaporkan melalui Kementerian Agama Kabupaten, pemerintah daerah, Kanwil, hingga Kementerian Agama pusat. Sepanjang memenuhi ketentuan, kami siap membantu mengawal,” jelasnya.
Pada sesi berikutnya, Pak Joni menyampaikan aspirasi agar persoalan PPPK di lingkungan madrasah dapat terus menjadi perhatian pemerintah.
Selanjutnya, Shohih dari MA Matholiul Anwar Sayung menyampaikan bahwa Program Indonesia Pintar sangat memberikan dampak positif bagi peserta didik. Ia memohon perhatian terhadap regulasi PIP serta menyampaikan kondisi madrasah yang terdampak banjir rob. Sebanyak empat ruang kelas dilaporkan tidak dapat digunakan sehingga kegiatan pembelajaran harus memanfaatkan aula.
Aspirasi berikutnya disampaikan oleh Siti Masbahah yang mewakili madrasah swasta. Ia menyampaikan harapan agar para guru madrasah swasta mendapatkan perhatian dalam pengangkatan dan kebijakan PPPK.
Menjawab berbagai aspirasi tersebut, H. Abdul Wachid menyampaikan bahwa persoalan PPPK bagi guru swasta telah menjadi salah satu perhatian pemerintah dan DPR. Menurutnya, kebijakan tersebut akan terus diperjuangkan, termasuk dalam pembahasan anggaran dan kebijakan tahun 2027.
Terkait PIP, ia menegaskan bahwa penerima bantuan tetap mengacu pada ketentuan dan kategori desil 1 hingga 4, namun persoalan ketidaktepatan data akan terus diperjuangkan untuk mendapatkan perbaikan melalui koordinasi dengan pihak terkait.
Adapun terkait dampak rob, ia menyampaikan bahwa program penanganan kawasan pesisir, termasuk pembangunan Giant Sea Wall, telah mulai menjadi perhatian pemerintah. Sementara untuk fasilitas ruang kelas yang terdampak rob, ia meminta agar kondisi tersebut dikoordinasikan lebih lanjut untuk mendapatkan pendampingan dan tindak lanjut.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai pendidikan Islam di tengah perkembangan Artificial Intelligence. Peserta diajak memahami bahwa perkembangan teknologi merupakan sebuah keniscayaan yang harus direspons secara adaptif dan bijaksana.
Pemanfaatan AI di dunia pendidikan diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, penguatan karakter, akhlak, pendampingan, serta keteladanan guru tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang unggul.
Setelah sesi diskusi dan tanya jawab selesai, kegiatan ditutup dengan penutup dan berlangsung dengan lancar. Antusiasme 240 peserta menunjukkan besarnya perhatian insan pendidikan terhadap berbagai persoalan dan masa depan pendidikan Islam.
Melalui kegiatan NGOPI Pendidikan Islam, MAN Demak berharap forum tersebut tidak hanya menjadi ruang dialog, tetapi juga menjadi jembatan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat dan madrasah kepada para pemangku kebijakan. Dengan kolaborasi seluruh pihak, pendidikan Islam diharapkan semakin maju, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta tetap kokoh dalam membentuk generasi yang berkarakter dan berakhlak mulia.(Adkar Nawawi, Humas MAN Demak)




